Monday, May 26, 2008

ORGANISASI TRANSNASIONAL

oleh : Rhiza S. Sadjad
rhiza@unhas.ac.id http://www.unhas.ac.id/~rhiza/

Sejak beberapa waktu berselang, BIN (Badan Intelijen Negara) – atas “pesanan” dari pihak tertentu di dalam mau pun di luar negeri – telah secara serius mengkaji dan mengamati berbagai kelompok di masyarakat yang dianggap layak diberi label sebagai “organisasi transnasional”. Salah satu metode BIN untuk mendapatkan hasil kajian dan pengamatan yang cukup sahih adalah dengan secara sengaja melempar issue pluralisme versus pluralitas sambil memperkenalkan istilah “transnasional” itu sendiri. Kalangan “elite” dan intelektual kemudian mengulas ketiga istilah ini dan menyebarkannya sebagai wacana pembicaraan masyarakat umum. Misalnya ungkapan dari tokoh Hasyim Muzadi yang dimuat di NU-Online. Begitu gencarnya BIN mengupayakan termasyarakatkannya istilah “transnasional” terbukti sampai akhir September 2007, kalau kita Google istilah tersebut, akan didapatkan lebih puluhan ribu halaman dokumen di web dari Indonesia saja yang membahas tentang kata tersebut. Metode ini kelihatannya cukup berhasil, sehingga dari pancingan-pancingan yang efektif, akhirnya BIN mendapat banyak informasi yang sangat berharga untuk “sang pemesan”.
















Istilah “transnasional” sebenarnya berasal dari dunia manajemen, tidak ada kaitannya dengan politik atau pun ideologi. Pengelolaan bisnis secara transnasional tidak mengenal batas-batas negara. Sebagaimana dikutip dari:

http://www.referenceforbusiness.com/management/Tr-Z/Transnational-Organization.html

“The key philosophy of a transnational organization is adaptation to all environmental situations and achieving flexibility by capitalizing on knowledge flows (which take the form of decisions and value-added information) and two-way communication throughout the organization”

Maka sesungguhnya organisasi transnasional meliputi upaya dan usaha terorganisasi apa saja yang dikelola lintas batas negara dan melibatkan personil dari beragam kebangsaan, suku dan agama. Bentuk organisasi itu bisa saja berupa organisasi sosial kemasyarakatan (contohnya seperti Rotary Club, Lions Club, dan semacamnya), atau lembaga-lembaga non-pemerintah (NGO, Non-Government Organizations) seperti Green Peace, Human Right Watch, dan semacamnya. Ada juga yang berbentuk partai politik tapi tidak terikat pada suatu negara tertentu, contohnya adalah gerakan Hizbut-Tahrir. Usaha-usaha transnasional juga bisa berbentul usaha Multi-Level Marketing (MLM) seperti Amway, Tiansi, High Desert dan segala macam usaha sejenis yang serupa dengan itu. Tapi dari semua bentuk Text Box: usaha transnasional, maka yang paling berbahaya bagi kehidupan berbangsa dan bernegara, sehingga layak mendapat perhatian serius dari BIN adalah usaha-usaha Trans-National Corporations (TNC) khususnya yang bergerak dalam bidang eksploitasi dan eksplorasi Sumber Daya Alam (SDA, Natural Resources) seperti pertambangan – lebih khusus lagi minyak, gas, dan sumber-sumber energi lainnya.

TNC adalah sesungguhnya merupakan re-inkarnasi dari perusahaan jaman baheula seperti VOC (punya Belanda) dan EIC (punya Inggris). Pada hakekatnya, yang namanya “penjajahan” itu tidak pernah berhenti oleh sebuah proklamasi kemerdekaan, melainkan hanya berubah bentuk saja. Doeloe, orang-orang Belanda dan Inggris, ketika menjajah negeri ini, terpaksa menempatkan orang-orangnya di “kantor-kantor dagang” mereka, yang sebagian kemudian tewas bukan oleh pemberontakan, melainkan oleh keganasan nyamuk malaria. TNCs memberi kemudahan bagi kaum penjajah untuk meng-operasional-kan kembali dan memodernisasikan sistem penjajahan. Intinya sama: mengeruk keuntungan sebesar-besarnya sampai tertumpuk MODAL (Das Kapital) dan memperbesar perusahaan, demi membesarnya usaha. Di negeri kita yang kaya minyak dan gas bumi, maka TNCs yang pertama-tama harus diawasi terus-menerus secara ketat adalah TNC minyak dan gas bumi, seperti: Mobil Oil yang sudah bergabung dengan Exxon Oil menjadi perusahaan yang lebih besar lagi bernama ExxonMobil, Total, British Petroleum (BP), dan lain-lain, serta TNC tambang emas dan perak, Freeport McMoran, misalnya. TNCs ini menguras habis SDA dan sekaligus juga “memperbudak” anak negeri untuk bekerja underpaid.

BIN, sebagai lembaga yang sepenuhnya bertanggung-jawab atas integritas NKRI, mestinya secara serius memperhatikan gerakan-gerakan dari TNCs ini. Penguasaan TNCs terhadap SDA kita sering amat merugikan. Suatu ketika Freeport McMoran misalnya pernah dikhabarkan telah melakukan genocide pada penduduk suatu negeri di Asia. Ketika membuka suatu lokasi pertambangan tembaga, penduduk setempat di-pindah-paksa-kan ke hilir sungai. Sesudah itu air sungai di sekitar hulu digunakan untuk mencuci bijih tembaga, dan limbahnya dialirkan ke hilir sungai. Dengan berbagai penyakit yang diakibatkan oleh limbah tembaga tersebut, sedikit demi sedikit penduduk pun dapat dimusnahkan, atau dikurangi populasinya hingga minimal.

No comments: