Tuesday, September 15, 2009

Siapakah Jundu Ansarullah?

GAZA - Baru beberapa hari mendeklarasikan Imarah Islam di Gaza (14/8), kelompok jihad Jundu Ansarullah (Tentara penolong Allah) seakan menjadi musuh baru bagi Hamas yang kini memegang kendali otoritas di wilayah Gaza. Pada hari itu juga polisi dan tentara Hamas menyerang masjid yang digunakan oleh Jundu Ansarullah dan para simpatisannya saat mendeklarasikan Imarah Islam Gaza.

Deklarasi Imarah Islam di Gaza yang dilakukan Jundu Ansarullah melalui amirnya Syekh Abde-Latief Al-Mousa (Abu Noor al-Maqdisi) Rahimahullah dianggap menentang hukum yang berlaku oleh Hamas dan Hamas menyatakan bahwa kelompok ini adalah kelompok "pengganggu" yang hanya akan memperlambat proses perdamaian di Palestina.

Berikut adalah beberapa fakta mengenai kelompok Jundu Ansarullah :

1. Jundu Ansarullah mengumumkan secara resmi organisasi mereka di wilayah Gaza beberapa bulan lalu setelah sekitar 3 mujahidnya syahid (Insha Allah) dalam sebuah penyerangan di perbatasan Israel.
2. Jundu Ansarullah mengecam dan mengkritisi gerakan Hamas karena kegagalannya menerapkan syariat Islam secara total di Gaza, juga sikap komprominya terhadap demokrasi.
3. Sedikit yang mengetahui kemampuan militer dan kepopuleran kelompok Jundu Ansharullah, karena kelompok ini memang baru dideklarasikan. Sekitar 100 orang pejuang mereka yang mengenakan penutup muka, mendengarkan khutbah Jumat amir mereka di sebuah masjid di Gaza. Banyak dari mereka menggunakan pakaian ala Pakistan atau Afghanistan, dengan rambut agak panjang yang mereka yakini meniru rambut nabi Muhammad SAW.
4. Jundu Ansarullah merupakan kelompok jihad pro-Al-Qaeda yang memiliki cita-cita menegakkan syariat Islam secara total, tak hanya di Palestina juga diseluruh negeri kaum Muslim. Solusi terhadap permasalahan Palestina adalah tegaknya syariat Islam secara total dengan jalan Dakwah dan Jihad.

Namun, jurubicara pemerintahan Hamas yang berbasis di wilayah Gaza menyatakan kelompok ini sebagai "buron" dan menyalahkan mereka atas serangan bom dengan target sipil, salah satunya penyerangan pada sebuah pesta perkawinan. Padahal hal tersebut belum terbukti kebenarannya dan tidak mungkin sebuah kelompok Islam yang berjuang untuk membela kaum muslimin melakukan pembunuhan secara sembarangan. (haninmazaya/bbs/arrahmah.com)


Lima Fakta Tentang Kelompok Jundu Ansharullah

Berikut ini adalah lima fakta tentang kelompok "Jundu Ansharullah" (Tentara Penolong Allah) :

* Jundu Ansharullah mengumumkan secara resmi kehadiran mereka di jalur Gaza dua bulan lalu setelah tiga anggota mereka syahid dalam sebuah penyerbuan di perbatasan Israel.
* Kelompok ini mengecam gerakan Hamas karena kegagalannya menerapkan syariat Islam secara totalitas di Gaza dan mendukung para Jihadis di seluruh Arab untuk bersekutu dengan Al-Qaidah. Pimpinan Jundu Ansharullah - Syaikh Abdul Latif Musa yang merupakan seorang dokter dan ulama di jalur Gaza selatan kota Rafah, diketahui sebagai pengikut Abu Al-Nur Al-Maqdisi - mendeklarasikan "Emirat/Imarah Islam" pada 14 Agustus yang lalu. Dan kepolisian Hamas menyerbu mereka pada hari itu juga.
* Sedikit yang mengetahui kemampuan militer dan kepopuleran kelompok Jundu Ansharullah diantara warga Gaza. Sekitar 100 orang pejuang mereka yang mengenakan penutup muka, mendengarkan khutbah Jumat Musa di sebuah masjid di Gaza. Banyak dari mereka menggunakan pakaian ala Pakistan atau Afghanistan, dengan rambut agak panjang yang mereka yakini meniru rambut nabi Muhammad SAW.
* Menteri dalam negeri Hamas mengatakan seorang berkewarganegaraan Syria, Khalid Banat yang dikenal sebagai Abu Abdullah Al-Muhajir termasuk salah seorang pejuang Jundul Ansharullah yang tewas dalam bentrokan bersenjata di Rafah.
* Juru bicara pemerintahan Hamas yang berbasis di Gaza menyebut anggota kelompok Jundu Ansharullah sebagai "buron", menyalahkan mereka atas serangkaian serangan yang menyerang warga Gaza, termasuk melakukan pemboman terhadap beberapa Warnet, yang mereka anggap sebagai sumber dari amoral dan sebuah penyerangan pada pesta perkawinan.(fq/thestar)


Kelompok Jundu Ansharullah Deklarasikan Perang terhadap Hamas

"Pedang Keadilan Islam" sebuah pesan yang diposting di situs Al-Qaidah menyatakan akan membalas kematian 24 orang anggota mereka termasuk pimpinan Jundu Ansharullah Abdul Latif Musa, yang tertembak pada bentrokan bersenjata dengan Hamas pada Sabtu kemarin. "Perang tetap pada jalannya", kata kelompok tersebut.

Kelompok Jundul Ansharullah yang setia terhadap Al-Qaidah ini mendeklarasikan "Perang" terhadap Hamas pada Sabtu kemarin setelah bentrok bersenjata menewaskan 24 anggota kelompok itu, termasuk pimpinan Jundu Ansharullah Syaikh Abdul Latif Musa.

Dalam pesan yang di posting di situs Al-Qaidah, "Pedang Keadilan Islam" pesan dari Jundu Ansharullah kelompok yang berideologi Salafy Jihadi ini bersumpah akan membalasa kematian anggota dan pimpinan mereka. "Kami katakan kepada masyarakat yang menjadi saksi mata kejahatan ini bahwa hal ini belum berakhir, dan perang tetap pada jalannya," kata isi pesan tersebut.

Kelompok ini memberi peringatan kepada penduduk di jalur Gaza untuk menjauhi kantor-kantor pemerintahan Hamas dan kantor pasukan keamanan Hamas.

"Kami serukan kepada masyarakat untuk menjauhi masjid-masjid yang dihadiri oleh para pemimpin "Kafir" Ismail Haniyah dan para menteri serta anggota legislatifnya, yang membuat undang-undang yang bertentangan dengan aturan Allah," kata pesan itu selanjutnya.

Kelompok ini bersumpah akan tetap setia terhadap pimpinan yang akan menggantikan Abdul Latif Musa sebagai pimpinan dari Emirat Islam Gaza untuk melanjutkan perjuangan.

Menurut Hamas pimpinan Jundu Ansharullah tewas dengan meledakkan dirinya sendiri sewaktu rumahnya diserbu oleh polisi Hamas.(fq/YnetNews)



Bentrok Hamas dan Jundu Ansharullah Kembali Berlanjut
Minggu, 16/08/2009 09:42

Gerakan Hamas mengkonfirmasi kebenaran berita terjadinya bentrokan bersenjata antara aparat kepolisian Hamas dengan kelompok Islam Jundu Ansharullah yang menewaskan 22 orang dan melukai sedikitnya 120 orang di jalur Gaza kemarin.

Pihak medis Hamas di Gaza mengatakan bahwa pimpinan dari Jundu Ansharullah, ikut terbunuh bersama dengan pengawalnya Abu Abdullah Assury ketika polisi meledakkan sebuah rumah di Rafah.

Dua puluh orang terbunuh dan sedikitnya 120 terluka dalam bentrok antara polisi Hamas dan anggota dari kelompok Jihad tersebut di bagian selatan kota Gaza, kata pihak ambulan Palestina pada Sabtu kemarin.

Bentrokan sepanjang Jumat malam dan Sabtu antara Hamas dan kelompok Jundu Ansharullah di jalur Gaza selatan telah menewaskan 20 orang dan sedikitnya 120 terluka," kata seorang juru bicara unit pelayanan darurat Palestina kepada AFP.

Baku tembak meletus pada Jumat siang setelah sholat Jumat di Rafah, di dekat perbatasan Mesir.

Ini merupakan insiden kekerasan terbesar di Gaza setelah zionis Israel melakukan agresi militer selama 22 hari di jalur Gaza pada akhir Desember tahun lalu dan awal Januari tahun ini.

Saksi mata mengatakan bahwa setelah pelaksanaan sholat Jumat, sebuah kelompok Palestina mengumunkan sebuah "Emirat Islam", menolak pemerintahan Hamas di Gaza.

"Kami hari ini memplokamirkan terbentuknya sebuah "Emirat Islam" di jalur Gaza," kata pimpinan kelompok tersebut di masjid Bin Taimiya, kata saksi mata yang melihat.

Rafah di Gaza menjadi basis dari gerakan Salafi Jihadi yang menamakan diri mereka "Jundu Ansharullah" dan mengatakan mereka adalah bagian dari jaringan Al-Qaidah.

Kejadian ini menjadi babak baru konflik internal rakyat Palestina. Semoga hal ini segera terselesaikan di kalangan rakyat Palestina. Sudah cukup darah kaum Muslimin tertumpah hanya karena perbedaan pemahaman dan cara berjuang.(fq/aby)



Jundu Ansharullah : "Emirat Islam" Telah Berdiri di Gaza
Sabtu, 15/08/2009 08:50 WIB

Sekurang-kurangnya tiga belas orang Palestina tewas dan lebih dari 100 lainnya terluka di Jalur Gaza pada hari Jumat kemarin pada sebuah bentrokan bersenjata antara kelompok Jihad baru dengan kepolisian Hamas, kata sumber medis.

Bentrokan terjadi ketika kepolisian Hamas berusaha membubarkan kelompok Jihad baru tersebut yang sedang berkerumum di masjid setelah sholat Jumat di wilayah Rafah.

"Delapan orang terluka dengan kondisi kritis," kata ketua Ambulan dan emergenci Gaza Dr Muawiya Hasanain kepada Al-Arabiya.

Kelompok jihad yang menyebut nama mereka "Jundu Ansharullah" menentang penguasaan Gaza oleh Hamas dan mendeklarasikan berdirinya "Emirat Islam" di wilayah tersebut dan bertekad akan berjuang dengan kekuatan bersenjata.

Meskipun kelompok "tentara Allah" ini hanya ratusan orang dalam aksinya di sebuah masjid di Gaza, hal ini menjadi 'persoalan' baru bagi pemerintahan nasional Hamas yang juga membawa bendera Islam.

Berpidato sebelum pelaksanaan sholat Jumat, Abdul Latif Musa - yang diketahui sebagai pengikut Al-Qaidah dari jalur Abu Nur Al-Maqdisi - yang secara resmi mengumumkan pemerintahan Islam di wilayah Palestina dan dimulai di Rafah.

"Kami mendeklarasikan lahirnya "Emirat Islam," kata Abdul Latif Musa - pria paruh baya berjenggot lebat dan berjubah ini serta dikelilingi oleh empat orang berpakaian hitam, beberapa diantaranya mengenakan penutup muka dan bersenjata lengkap. Dan salah sat dari mereka mengenakan rompi untuk aksi bom syahid.

Para ratusan jamaah dalam masjid tersebut berkali-kali meneriakkan takbir. Al-Qaidah secara sejarahnya selalu menggunakan istilah "Emirat" untuk mendeklarasikan aturan Islam di seluruh dunia.

Sebelumnya perdana mentri Hamas, Ismail Haniyah menolak laporan dari media Israel terkait adanya kelompok-kelompok jihad baru di Gaza yang berafiliasi ke Al-Qaidah.

Kelompok "Jundu Ansharullah" telah mengumumkan secara resmi keberadaannya di Gaza sejak dua bulan lalu, setelah tiga dari anggota mereka syahid dalam sebuah penyerbuan di perbatasan Israel.

Di luar masjid pada Jumat kemarin, hampir 100 orang berpenutup muka dan bersenjata lengkap dengan pakaian ala pakistani membawa senjata tempur lengkap termasuk peluncur roket tangan.

Hamas sendiri menolak untuk meninggalkan perjuangan bersenjata mereka terhadap zionis Israel, namun mereka mengecam aksi-aksi Al-Qaidah yang melakukan pemboman di berbagai negara. Hamas telah dikritik karena akan melaksanakan syariat Islam dengan salah satu aturannya berkaitan dengan pakaian bagi para wanita, namun Hamas mendapat tantangan baru dari kelompok yang menginginkan lebih ketat dalam pelaksanaan syariat Islam di Gaza.

Abu Nur Al-Maqdisi pimpinan dari "Jundu Ansharullah" memberi peringatan kepada Hamas atas keputusan mereka akan mengambil alih masjid dimana dia akan memimpin doa untuk para pengikutnya:"jika mereka mendekati masjid mereka akan tahu bahwa hari-hari mereka akan menjadi semakin pendek," kata Maqdisi.

Maqdisi mengatakan bahwa kelompoknya tidak akan memulai menyerang Hamas akan tetapi "siapapun yang menumpahkan darah kami, darahnya akan kami tumpahkan juga.!"

Ia juga mendesak "semua orang yang memiliki senjata" untuk bergabung dengan kelompok mereka dan melaksanakan keputusan yang akan dikeluarkan secara rutin setiap pelaksanaan sholat Jumat mingguan. Kelompok ini mengutuk demokrasi yang mereka katakan sebagai hal yang dilarang dalam ajaran Islam karena mengikuti hukum manusia bukan hukum Allah.

"Siapa yang anda takuti? Amerika? Inggris? Prancis? Uni Eropa? Anda hanya harus takut kepada Allah," kata Maqdisi dalam peringatannya kepada para pemimpin Hamas yang mau melakukan dialog dengan barat.(fq/aby)



No comments: